Persebaya Surabaya kembali mencetak sejarah. Minggu pagi, 6 Juli 2025, skuad Bajol Ijo resmi terbang ke Perth, Australia, bukan sekadar untuk liburan pramusim, melainkan untuk menggebrak pentas sepak bola internasional lewat mini training camp dan laga uji coba bergengsi melawan tim Western Australia. Bukan hanya soal sepak bola—ini tentang martabat, kebanggaan, dan reputasi klub legendaris Indonesia di mata dunia.
Selama seminggu ke depan, 26 pemain pilihan akan digembleng keras di Sam Kerr Football Centre, fasilitas elit milik Football West. Dua kali latihan per hari, di bawah pengawasan langsung pelatih Paul Munster, akan menjadi ujian ketahanan fisik dan mental para pemain muda Persebaya. Ini bukan tur wisata. Ini kamp militer sepak bola. Dan hanya yang terkuat yang akan bertahan hingga Liga 1 dimulai.
Kunjungan ini bukan proyek mendadak. Dirancang sejak April 2024, tetapi baru sekarang diwujudkan. Momentum ini pun bertepatan dengan 35 tahun hubungan sister province Jawa Timur–Western Australia, memperkuat bahwa sepak bola bisa menjadi diplomasi budaya paling efektif. Persebaya bukan hanya membawa nama klub—mereka membawa nama Indonesia.
Atmosfer pertandingan uji coba pada 9 Juli 2025 mendatang dipastikan membara. Tiket nyaris ludes, mayoritas diborong diaspora Indonesia dan Bonek garis keras yang rela terbang ke Australia. Tak ada istilah laga persahabatan. Di lapangan, kehormatan jadi taruhan. Persebaya akan unjuk gigi: menunjukkan bahwa klub Indonesia tak kalah dalam hal taktik, disiplin, dan semangat juang.
Manajemen menyebut ini langkah strategis membentuk skuad tangguh yang siap menantang gelar juara Liga 1. Sementara itu, publik menunggu, apakah tur ini hanya gimik manajemen atau benar-benar cikal bakal kebangkitan.
Satu hal pasti: Persebaya tak sedang main-main. Mereka datang untuk menang, mencatatkan jejak, dan membuka babak baru dalam sejarah sepak bola nasional. Dunia harus tahu: Persebaya telah bangkit.