Di balik gemerlap pesta ulang tahun dengan kue tart dan lilin yang berkelip, tersimpan jejak sejarah panjang yang jarang disadari: ritual doa di hadapan api, tradisi kuno yang berakar pada bangsa Majusi. Meniup lilin setelah berdoa bukan sekadar permainan anak-anak, melainkan simbol yang diwarisi dari keyakinan lama bahwa asap dan cahaya api mampu mengantarkan doa menuju langit.
Bangsa Yunani kuno menyalakan lilin di atas kue sebagai persembahan untuk dewi bulan, sementara Romawi menjadikannya simbol keberuntungan di hari lahir. Majusi lebih jauh lagi, menempatkan api sebagai lambang kesucian, pusat doa, dan jembatan menuju Ahura Mazda, Tuhan mereka. Bayangan sejarah inilah yang kini tanpa sadar hadir di meja pesta setiap kali lilin ulang tahun dinyalakan lalu ditiup.
Pertanyaannya, pantaskah tradisi yang mengakar pada keyakinan di luar tauhid tetap kita pelihara tanpa kritik? Dalam Islam, doa adalah hubungan langsung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan lewat api, asap, atau simbol lain. Namun hari ini, jutaan muslim masih larut dalam ritual tiup lilin tanpa pernah bertanya: dari mana asal-usulnya?
Di balik nyala kecil sebatang lilin, sesungguhnya tersimpan jejak keyakinan kuno yang tak lagi sesuai dengan akidah. Sebuah simbol sederhana yang mampu membuka perdebatan besar: apakah doa kita masih murni menuju langit, atau sekadar terjebak dalam asap tradisi?