Seiring meningkatnya penggunaan mobil dan motor listrik di Indonesia, kekhawatiran akan potensi kebakaran menjadi perhatian serius. Beberapa kasus kebakaran kendaraan listrik yang viral di media sosial memunculkan pertanyaan besar: seberapa amankah teknologi ramah lingkungan ini?
Faktanya, sumber utama kebakaran kendaraan listrik berasal dari baterai lithium-ion yang sensitif terhadap panas, benturan, atau kesalahan pengisian. Jika sistem manajemen baterai (BMS) gagal memutus arus saat suhu melonjak, reaksi kimia berantai dapat memicu api dalam hitungan detik. Lebih parah lagi, jika pengguna menggunakan charger tidak sesuai spesifikasi, risiko kebakaran meningkat drastis.
Namun, kondisi ini tidak boleh menjadi alasan untuk antipati terhadap kendaraan listrik. Justru, edukasi dan kedisiplinan pengguna adalah kunci keselamatan. Pakar otomotif menyarankan agar pemilik selalu menggunakan baterai bersertifikat, menghindari pengisian penuh 100% setiap saat, dan tidak membiarkan kendaraan terparkir di bawah terik matahari dalam waktu lama. Pemeriksaan rutin kabel, konektor, dan fisik baterai juga wajib dilakukan.
Teknologi seperti solid-state battery dan sistem pendingin canggih kini tengah dikembangkan untuk mengatasi isu ini secara permanen. Bahkan, sejumlah produsen telah menyematkan fitur pemantauan suhu berbasis AI untuk mendeteksi potensi bahaya lebih awal.
Sudah saatnya konsumen tidak hanya bangga memiliki kendaraan listrik, tetapi juga memahami cara merawatnya dengan cerdas. Jangan biarkan investasi masa depan Anda berubah menjadi ancaman di garasi sendiri. Aman itu pilihan.