Rodrigo De Paul akhirnya buka keran gol bersama Inter Miami—dan ia melakukannya di panggung besar. Gelandang asal Argentina itu hanya butuh enam menit untuk menebar teror ke jantung pertahanan Pumas UNAM, mengoyak jala lawan lewat tembakan mendatar nan dingin. Satu peluru pembuka yang bukan hanya memberi keunggulan awal, tapi juga menyulut bara dominasi mutlak Inter Miami malam itu.
Pumas datang ke laga ini dengan status “unggulan bayangan”, namun kenyataan di lapangan berkata lain. Mereka tak hanya kalah kelas, mereka dikuliti secara perlahan—dan Luis Suárez adalah algojonya. Sang predator veteran tampil seakan belum kehilangan taji. Ia terlibat dalam semua gol, membagi assist brilian, memancing penalti, dan mengatur ritme permainan seakan-akan ia sedang menari di atas puing ambisi Pumas.
Gol kedua Inter datang dari titik putih setelah Suárez dijatuhkan di kotak terlarang—eksekusi Leonardo Campana begitu tenang, membuat kiper Pumas terpaku. Pumas sempat membalas lewat gol César Huerta di awal babak kedua, tapi itu hanyalah percikan kecil yang cepat dipadamkan.
Ketika laga mendekati ujung, Suárez kembali menunjukkan kelasnya. Sebuah umpan terobosan tajam langsung mengiris pertahanan Pumas dan menemui Robert Taylor, yang tak membuang peluang untuk menutup pesta tiga gol.
Javier Mascherano, arsitek muda Inter Miami, tak bisa menutupi puasnya. Ia membentuk skuad yang bukan hanya tampil atraktif, tapi juga efisien dan kejam saat menyerang.
Sementara itu, Pumas pulang lebih awal—terbirit, tanpa perlawanan berarti, dan harus menelan pil pahit bahwa mimpi juara mereka hanya ilusi semata.
Inter Miami kini melaju ke perempat final dengan modal kepercayaan diri tinggi, dan satu pesan jelas: mereka bukan sekadar tim hiburan, tapi kandidat serius perengkuh gelar.