Tangan dingin Megawati Soekarnoputri kembali terasa dalam pusaran kekuasaan nasional. Di tengah kebisuan yang ia pelihara rapat sejak kekalahan PDIP dalam Pilpres 2024, satu langkah “perlawanan senyap” tampaknya mulai mengemuka: Hasto Kristiyanto dibebaskan. Tapi jangan salah baca—ini bukan semata kemenangan hukum, melainkan bagian dari permainan elit yang jauh lebih kompleks.
Hasto bukan kader biasa. Ia adalah sekjen partai, algojo politik sekaligus penyambung nadi Megawati. Ia tahu banyak. Terlalu banyak. Dan ketika namanya dikaitkan dengan kasus Harun Masiku, publik tak hanya mencium aroma korupsi, tapi juga skenario pembungkaman politik. Penahanannya pada Juni lalu bukan sekadar tindak hukum; itu peringatan: “Banteng jangan terlalu keras menanduk.”
Namun Megawati tak pernah melawan dengan teriakan. Ia melawan dengan sunyi. Tak ada jumpa pers. Tak ada tangisan atau demonstrasi. Tapi sistem mulai bergetar. Elite di lingkaran dalam merapatkan barisan. Mesin hukum yang semula garang tiba-tiba melunak. Dan hari ini, Hasto melenggang keluar sel tahanan dengan kepala tegak. Sebuah pesan dikirim balik: “Jangan main-main dengan kami.”
Pertanyaannya: apakah pembebasan ini adalah hasil tekanan balik PDIP, atau justru buah dari kompromi terselubung antara Megawati dan kekuatan baru di Istana? Publik tak tahu pasti. Tapi siapa yang membaca politik dengan mata telanjang akan mudah tersesat.
Presiden terpilih Prabowo Subianto belum bersuara. Tapi semua paham, membiarkan Hasto bebas adalah kalkulasi. Membiarkan Megawati terlalu lama marah juga bukan langkah bijak. Stabilitas kekuasaan butuh narasi besar, dan PDIP masih pemilik suara mayoritas di DPR.
Sementara itu, bayang-bayang Joko Widodo masih membayang. Relasi dingin antara Megawati dan Jokowi kini berubah menjadi jurang. PDIP bukan lagi rumah politik Jokowi. Ia telah menciptakan dinastinya sendiri lewat Gibran. Maka jangan heran jika drama ini baru babak awal dari perang diam-diam antara dua kutub nasionalisme yang retak dari dalam.
Megawati tahu satu hal yang tak semua elite pahami: kekuasaan tidak ditentukan oleh siapa yang berkuasa hari ini, tapi oleh siapa yang bertahan ketika badai datang. Dan Hasto adalah pion yang kini kembali ke papan catur—siap melangkah atas perintah sang Ratu.
Selamat datang kembali di republik drama elite, di mana hukum adalah panggung, dan kekuasaan adalah naskah yang ditulis dalam gelap.