Jakarta, 17 Agustus 1945. Sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di sebuah rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Namun, tak banyak yang tahu bahwa detik-detik monumental itu nyaris tak pernah terjadi dengan cara seperti yang kita kenal hari ini.
Awalnya, Bung Karno dan Bung Hatta berencana membacakan proklamasi di Lapangan Ikada agar rakyat berbondong-bondong menyaksikan. Tetapi Jepang, yang masih bersenjata lengkap, mengintai setiap gerak-gerik pemuda. Risiko pertumpahan darah terlalu besar. Proklamasi pun dialihkan ke rumah Bung Karno, tanpa pengeras suara, tanpa panggung, hanya halaman kecil dengan tiang bambu seadanya.
Naskah proklamasi sendiri bukan lahir dari ruang mewah, melainkan dari rumah seorang perwira Jepang, Laksamana Maeda, yang secara diam-diam memberi jaminan keamanan. Ironis, Jepang yang kalah perang justru ikut melindungi janin kemerdekaan Indonesia. Lebih ironis lagi, naskah asli tulisan tangan Soekarno sempat dibuang ke tempat sampah sebelum akhirnya diselamatkan oleh B.M. Diah. Tanpa keberanian seorang jurnalis, dokumen itu bisa lenyap dari sejarah.
Ketika Bung Karno membaca proklamasi, tubuhnya demam tinggi karena malaria tertiana. Namun suara seraknya memecah pagi Jakarta, disaksikan tak lebih dari seribu orang. Tidak ada ribuan massa, tidak ada orkestra megah. Lagu “Indonesia Raya” hanya dikumandangkan sederhana, diiringi biola peninggalan Wage Rudolf Supratman.
Yang lebih mengejutkan, berita kemerdekaan justru pertama kali mendunia melalui radio Domei, milik Jepang. Dari siaran itulah dunia tahu Indonesia lahir sebagai bangsa merdeka. Sebuah ironi sejarah: proklamasi Indonesia lahir di bawah bayangan tentara asing, dengan bendera dari kain warisan, dan dibacakan oleh seorang presiden yang tubuhnya nyaris roboh.
Namun dari kesederhanaan itulah, lahir sebuah bangsa yang kelak mengguncang dunia.