Ia bukan sekadar proklamator. Soekarno adalah teka-teki hidup yang membelah sejarah bangsa. Lahir sebagai Kusno Sosrodihardjo, sang bocah sering sakit hingga namanya diganti demi “tuah” Jawa. Dari situlah lahir sosok pemimpin yang kelak mengguncang dunia. Fasih tujuh bahasa, dari Belanda hingga Arab, ia mampu memikat diplomat dan rakyat dengan orasi berapi-api tanpa pengeras suara, suaranya merambat menembus ribuan telinga.
Namun, Soekarno bukan hanya politisi. Ia arsitek, seniman, dan visioner. Tangannya ikut merancang Monas dan Masjid Istiqlal, dua monumen yang kini jadi ikon negeri. Hobinya pun tak biasa: memotret momen-momen pribadi dan mengoleksi mobil mewah seperti Chrysler Imperial 1963—simbol kemewahan di tengah rakyat yang kala itu masih merangkak dari keterpurukan.
Kehidupannya berliku. Diasingkan empat kali—Ende, Bengkulu, Padang, Blitar—Soekarno justru menjadikan masa pengasingan itu sebagai laboratorium ide, mengasah pikiran revolusionernya. Ironisnya, penguasa yang pernah memimpin jutaan jiwa ini, di akhir hayatnya hidup dalam keterbatasan dan pengasingan politik.
Soekarno adalah paradoks: revolusioner sekaligus romantis, penguasa yang jatuh di tanah sendiri, pahlawan yang dipuja namun juga disingkirkan. Fakta-fakta uniknya membuktikan, ia bukan hanya presiden pertama Indonesia, tetapi juga maestro panggung sejarah yang pesonanya tak pernah padam.