Apple Kehilangan DNA Inovasi: Dari Penjual Mimpi Jadi Mesin Profit


Apple, raksasa teknologi yang dulu dielu-elukan sebagai simbol inovasi, kini mulai digerogoti pertanyaan besar: apakah perusahaan ini sudah kehilangan arah? Dari sebuah legenda yang menjual “mimpi” lewat sentuhan Steve Jobs, kini Apple di bawah Tim Cook lebih mirip manajer investasi yang lihai menghitung margin. Hasilnya memang manis di laporan keuangan, tapi bagi konsumen? Rasanya semakin hambar.

Bayangkan saja, dari perusahaan paling berharga di dunia dengan valuasi lebih dari 3 triliun dolar, Apple kini harus rela turun ke posisi ketiga di bawah Microsoft dan Nvidia. Ironisnya, ini bukan karena produk Apple jelek, tapi karena inovasi yang makin terasa minim. Alih-alih revolusi, konsumen hanya mendapat “upgrade minor” seperti kamera sedikit lebih tajam atau baterai yang agak lebih tahan lama. Itu pun dengan harga yang kian melambung—iPhone SE, misalnya, naik 40% hanya dalam dua tahun.

Strategi Cook jelas: memanjakan pemegang saham lewat buyback saham jumbo yang membuat harga melesat, sementara anggaran riset hanya 30 miliar dolar—jauh kalah dari Amazon atau Google. Konsumen pun seperti terjebak dalam ekosistem “manipulatif” Apple: iMessage, AirDrop, iCloud—sekali masuk, susah keluar. Rasanya lebih seperti rumah hantu berlapis emas: mewah, tapi bikin ketergantungan.

Dan jangan lupakan AI. Siri, yang dulu pionir asisten suara, kini lebih sering terdengar seperti robot pelupa ketimbang asisten pintar. Apple bahkan harus numpang server Google Cloud untuk melatih AI mereka, lalu buru-buru menggandeng ChatGPT agar tidak ketinggalan kereta.

Video ini menutup dengan peringatan keras: Apple memang tidak akan bangkrut besok, tapi jika terus asyik mengejar profit sambil melupakan DNA inovasi, mereka berisiko turun tahta. Karena sejarah sudah membuktikan—raja teknologi bisa sewaktu-waktu digulingkan, bahkan oleh anak baru yang lebih berani bermimpi.