Ambisi Makan Siang Gratis: Australia dan Indonesia di Dua Kutub Kebijakan.

Canberra/Jakarta - Dua negara tetangga, Australia dan Indonesia, sama-sama mendorong program makan siang gratis di sekolah. Namun, pendekatan dan skala kedua negara sangat kontras. Jika Indonesia melesat dengan program raksasa "MBG", Australia justru bergerak hati-hati dengan skema bertahap dan iuran orang tua .

Kontras Skala dan Anggaran

Indonesia menggelontorkan dana Rp268 triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjangkau hampir 83 juta penerima pada 2026 . Program ini menargetkan percepatan ekstrem dengan 27.000 dapur lapangan (SPPG) yang beroperasi, menyerap Rp60 triliun hingga April 2026 . Anggarannya mencapai 6 persen dari total APBN .

Sebaliknya, Australia masih dalam tahap pilot. Program percontohan di Tasmania hanya melayani 21.500 porsi per minggu dengan biaya per porsi sekitar 10 dolar Australia . Anggarannya pun masih kecil, bersumber dari pemerintah negara bagian.

Filosofi Pendekatan

Indonesia memilih strategi "serentak dan luas" — membangun lift besar sekaligus. Presiden Prabowo Subianto mendorong akselerasi maksimal: "Go faster" . Dampaknya, program ini langsung menjadi penggerak ekonomi daerah dengan perputaran dana Rp6 triliun per bulan di Jawa Barat .

Australia justru menerapkan filosofi "bertahap" — membangun anak tangga satu per satu. Program ini didorong oleh kegagalan sistem bekal yang dinilai kurang nutrisi . Pendiri program di Tasmania, Julie Dunbabin, bahkan mengakui bahwa iuran orang tua (sekitar $5 per porsi) diperlukan demi keberlanjutan .

Tantangan Implementasi

Di Indonesia, kritik muncul soal tata kelola dan potensi konflik kepentingan, termasuk kekhawatiran dominasi asosiasi pemasok dalam rantai pasok . Sementara Australia menghadapi tantangan klasik: meningkatkan kesadaran gizi dan mengubah budaya bekal yang sudah mengakar.

Kesimpulannya, MBG adalah lompatan besar dengan risiko fiskal dan tata kelola, sementara pendekatan Australia adalah langkah kecil yang aman namun lambat. Dua ambisi, satu tujuan: generasi yang lebih sehat.