Teheran/Washington – Dunia kembali menahan napas. Gencatan senjata AS-Iran yang rapuh bak kaca kini memasuki babak baru "perang dingin" di Selat Hormuz. Presiden Trump justru mengirim misi angkatan laut "Project Freedom", yang oleh Iran disebut sebagai pelanggaran damai.
Dalam 72 jam terakhir, drama diplomasi mencapai titik kritis. Iran telah mengirimkan proposal berani 14 poin dengan tuntutan keras: penarikan total pasukan AS, pencabutan semua sanksi, pembebasan aset, hingga pengakuan hak pengayaan uranium. Sebagai gantinya, Iran bersedia membahas isu nuklir di tahap akhir.
Trump merespons sinis. Ia menyebut proposal itu tidak bisa diterima karena Iran "belum membayar harga yang cukup besar". "Project Freedom" dikerahkan dengan kekuatan 15.000 personel, kapal penghancur rudal, dan 100 pesawat untuk mengawal kapal dagang yang terjebak.
Namun analis meragukan kesuksesan misi ini. Iran memiliki puluhan kapal serang cepat di perairan. Jika Trump memaksakan diri, Iran mengancam akan membalas dan menganggapnya sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Kini bola ada di tangan Gedung Putih: pilih diplomasi atau konfrontasi. PBB memperingatkan jika kebuntuan berlanjut, 32 juta orang akan jatuh miskin akibat rantai pasok tersumbat. Skenario paling mungkin saat ini adalah jalan buntu berkepanjangan. Dunia masih menunggu langkah Trump: menekan tombol perang atau kesepakatan buruk?