SURABAYA — Momentum Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026 diperkirakan menghadirkan perputaran ekonomi yang sangat besar di Indonesia. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan nilai transaksi hewan kurban tahun ini mencapai sekitar Rp26,89 triliun.
Besarnya nilai ekonomi tersebut berasal dari kebutuhan hewan kurban yang diperkirakan mencapai 1,59 juta ekor, terdiri dari sekitar 493 ribu ekor sapi dan 1,09 juta kambing atau domba. Distribusi daging kurban juga diprediksi mencapai sekitar 99.290 ton untuk masyarakat di berbagai daerah.
Selain menjadi ibadah, kurban juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Mulai dari peternak, pedagang hewan, jasa transportasi, penjual pakan ternak, hingga pelaku UMKM ikut merasakan dampak ekonomi dari momentum Idul Adha.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga memastikan stok hewan kurban tahun ini dalam kondisi aman. Ketersediaan hewan kurban nasional diperkirakan mencapai 3,24 juta ekor, lebih tinggi dibanding kebutuhan sekitar 2,35 juta ekor, sehingga terdapat surplus sekitar 891 ribu ekor.
Namun di balik besarnya perputaran uang tersebut, para ulama mengingatkan bahwa esensi utama kurban bukan hanya nilai ekonomi, melainkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa bukan daging maupun darah hewan kurban yang sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari orang yang berkurban.
Karena itu, orang yang berkurban sejatinya adalah orang yang bertakwa, yang rela mengorbankan sebagian hartanya demi mendekatkan diri kepada Allah dan berbagi kepada sesama.