Suasana setelah penyembelihan hewan qurban masih terasa di banyak sudut kota. Aroma sate dan gulai masih muncul dari dapur rumah warga, sementara obrolan soal pembagian daging tetap jadi topik hangat di warung kopi sampai teras rumah.
Namun di balik ramainya perayaan Idul Adha dan hari tasyrik, kondisi pasar tradisional belum benar-benar pulih seperti hari biasa. Di Pasar Kapas Krampung misalnya, beberapa lapak masih tutup. Ada pedagang yang belum kembali dari kampung halaman, ada juga yang memilih libur lebih panjang untuk berkumpul bersama keluarga.
Pemandangan itu cukup terasa sejak pagi. Lorong pasar memang tetap hidup, tapi tidak seramai biasanya. Beberapa pembeli terlihat harus berputar lebih jauh mencari bumbu dapur karena pedagang langganan belum buka.
Yang paling banyak dikeluhkan tentu harga cabe dan bumbu masak. Cabe rawit naik perlahan, bawang merah juga ikut bergerak. Tidak terlalu ekstrem, tapi cukup bikin ibu-ibu mengernyit saat belanja harian.
“Baru beli sedikit sudah habis banyak,” celetuk seorang pembeli sambil membawa kantong kecil berisi cabe dan bawang.
Kenaikan harga ini sebenarnya bukan karena nilai rupiah melemah atau faktor impor. Situasinya lebih dipengaruhi tingginya kebutuhan masyarakat selama momen qurban. Banyak orang memasak dalam jumlah besar. Ada yang membuat sate, tongseng, gulai, semur, sampai rendang dadakan untuk keluarga dan tetangga.
Permintaan naik hampir bersamaan. Sementara stok di pasar tidak sepenuhnya normal karena distribusi dan aktivitas pedagang masih belum maksimal selepas libur hari raya.
Hal kecil seperti ini memang sering terjadi tiap musim Idul Adha. Apalagi saat hari tasyrik masih berlangsung. Aktivitas dapur warga cenderung lebih sibuk dibanding hari biasa. Daging qurban yang dibagikan biasanya langsung diolah agar bisa dinikmati ramai-ramai.
Menariknya, kondisi pasar justru terasa lebih santai. Tidak terlalu padat, tidak banyak teriakan khas bongkar muat sayur seperti hari normal. Beberapa kios hanya buka separuh. Ada pedagang yang datang sekadar mengecek barang lalu pulang lebih cepat.
Di sudut pasar, aroma bumbu giling tetap menguar bercampur bau rempah dan daging segar. Suasana khas pasar tradisional yang tetap hidup meski belum sepenuhnya lengkap.
Bagi sebagian warga, kondisi ini sudah dianggap biasa setiap tahun. Harga bumbu naik sebentar lalu perlahan turun lagi setelah aktivitas masak besar-besaran mulai berkurang dan pedagang kembali berdatangan.
Untuk sementara, masyarakat tampaknya masih menikmati suasana lebaran qurban. Anak-anak masih bermain sambil membawa tusuk sate, sementara para orang tua sibuk bertukar masakan antar rumah. Pasar mungkin belum seramai biasanya, tapi nuansa kebersamaan masih terasa hangat di mana-mana.