SURABAYA – Malam Minggu yang digadang-gadang indah berubah menjadi "neraka" kemacetan. Ribuan masyarakat saling sikut di pusat kota demi menyaksikan Surabaya Vaganza 2026, Sabtu (16/5/2026). Mengusung tema *Festival of Lights*, acara ini sukses menyulap jalanan menjadi lautan manusia yang sesak dan berujung petaka.
Di balik kerlip lampu mobil hias, terpampang ego kebijakan yang mengorbankan warga. Penutupan jalan yang serampangan membuat lalu lintas lumpuh total. Kemacetan meluas hingga jalur penghubung kota. Warga menilai, jika area kegiatan dipusatkan dan tidak diperpanjang, kelumpuhan ini bisa diredam.
Nahasnya, akibat massa yang berjubel tanpa kendali, sejumlah penonton tumbang dan pingsan karena kelelahan serta sesak napas. Petugas medis harus jatuh bangun menembus lautan manusia demi menolong korban yang terkapar akibat kurangnya ruang gerak.
Sentilan untuk Eri Cahyadi
Di tengah kekacauan, Wali Kota Eri Cahyadi justru mengklaim acara ini menunjukkan "indahnya rasa kekeluargaan". Ia berdalih rute sengaja diperpanjang dari Tugu Pahlawan ke Bambu Runcing agar warga "nyaman". Nyatanya, rute panjang ini malah memperluas radius kemacetan total.
Eri juga sibuk membanggakan statistik: kunjungan wisata naik 12,5% dan hotel naik 4%. “Pariwisata jalan, ekonomi bergerak,” klaimnya bangga, sambil mengobral gimik tiket wisata Rp733.
Apakah cuan hotel sebanding dengan warga yang tumbang di jalanan? Surabaya Vaganza 2026 sukses jadi festival lampu, sekaligus cermin buruknya manajemen massa di era Eri Cahyadi.