SURABAYA — Seorang mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Program Studi FKIP di Surabaya menilai demonstrasi sejatinya merupakan bagian penting dari demokrasi untuk mengingatkan pemerintah maupun wakil rakyat ketika kebijakan yang dibuat dianggap terlalu ekstrem atau tidak berpihak kepada masyarakat.
Namun, menurutnya, sebagian aksi demonstrasi yang terjadi belakangan justru mulai kehilangan esensi. Ia melihat tidak sedikit aksi yang berujung kericuhan dan lebih banyak melibatkan emosi massa dibanding penyampaian aspirasi yang substansial.
“Demonstrasi seharusnya menjadi sarana mengingatkan para wakil rakyat apabila terlalu ekstrem dalam membuat kebijakan atau peraturan. Tapi sekarang sering kali justru menjadi ajang ricuh yang melibatkan anak muda,” ujarnya kepada media, Kamis (18/6/2026).
Mahasiswa tersebut juga menilai efektivitas demonstrasi saat ini mulai dipertanyakan. Menurutnya, berbagai aksi yang dilakukan kerap tidak memberikan dampak nyata terhadap perubahan kebijakan pemerintah.
“Pemerintah didemo bagaimana pun saat ini terkesan tidak berefek apa-apa. Akhirnya yang terjadi, pemuda dikompori untuk turun ke jalan, lalu ditangkap polisi, dan perjuangannya terasa sia-sia,” katanya.
Selain menyoroti isu demonstrasi, ia juga mengomentari kenaikan harga Pertamax. Menurutnya, meski secara langsung lebih dirasakan kalangan menengah ke atas, kenaikan BBM sering kali menjadi pemicu naiknya harga berbagai kebutuhan lainnya.
“Ketika Pertamax naik, biasanya itu menjadi acuan bagi harga-harga lain untuk ikut naik. Dampaknya akhirnya dirasakan oleh masyarakat secara luas,” ungkapnya.
Sumber: Wawancara dengan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Program Studi FKIP di Surabaya.