Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Minggu lalu, pasukan AS menyerang posisi militer di Pulau Larak, sebuah titik kecil namun sangat strategis di tengah Selat Hormuz. Tindakan ini memecah masa jeda pertempuran yang berlangsung sekitar sebulan terakhir .
Menurut keterangan pihak Washington, serangan ditujukan untuk menghancurkan dua peluncur roket milik Iran yang sedang bersiap memasang ranjau laut di jalur pelayaran tersebut. Mereka menilai hal itu mengancam keamanan kapal dagang yang lewat .
Tentu saja Iran tidak tinggal diam. Balasan datang cepat berupa serangan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania dan serangan drone ke pangkalan di Uni Emirat Arab. Selain itu, Korps Garda Revolusi Iran menyatakan berhasil menembak jatuh satu drone pengintai AS tipe MQ-9 di perairan Selat Hormuz .
Situasi kini makin pelik. Harga minyak dunia langsung melonjak—harga minyak Brent menembus angka 91 dolar AS per barel seiring kekhawatiran pasar akan terganggunya jalur suplai utama dunia ini .
Pihak Iran menyebut serangan ke Pulau Larak sebagai “kesalahan strategis dan fatal”. Juru bicara militer mereka memperingatkan dampak besar yang bakal menimpa kawasan jika Washington terus memaksakan jalan kekerasan . Sementara itu Presiden AS Donald Trump sudah berjanji akan merespons serangan balasan tersebut dengan tindakan yang lebih keras lagi .
Meski suasana terasa penuh bahaya, ada pula tawaran jalan keluar. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan siap kembali ke kesepakatan gencatan senjata yang disepakati bulan Juni lalu—asalkan Amerika Serikat juga menepati janji dan kembali berpegang pada perjanjian tersebut .
Saat ini, seluruh pihak masih menanti langkah selanjutnya. Kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang ketidakpastian. Selat Hormuz tetap menjadi titik panas yang setiap saat bisa memicu gejolak yang lebih besar bagi stabilitas regional maupun ekonomi global.